jika terjadi perpecahan siapakah yang paling diuntungkan
Dengandemikian, yang berhak dipandang sebagai bangsa Romawi sejak Tahun 476 M adalah Romawi Barat atau Byzantine Empire. Sehingga untuk mengetahui siapakah yang berhak dipandang sebagai bangsa Romawi (atau penerus Romawi) sekarang, maka kita harus melihat apa yang terjadi pasca penaklukkan Konstantinopel oleh Turki Utsmani.
Laporanberjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel.Laporan tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan
Akibatnyaperdebatan dan konflik mengenai siapakah yang paling pantas sebagai pengganti khalifah Muhammad pun bermunculan. 1946) terjadi berbagai perpecahan sektarian yang sengaja diciptakan untuk menekan nasionalisme Arab dan gerakan kemerdekaan nasional. Padahal jika kita melihat bagaimana kondisi yang dihasilkan pasca humanitarian
Sistemkami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS jika terjadi perpecahan siapakah yang paling diuntungkan. Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu.
HEREare many translated example sentences containing "SIAPA YANG PALING DIUNTUNGKAN" - indonesian-english translations and search engine for indonesian translations. Bengali Vietnamese Malay Thai Korean Japanese Hindi Turkish Polish Portuguese Dutch Italian Latin German Norwegian Russian Spanish French Czech Swedish Croatian Finnish Danish.
Shaded Pole Single Phase Induction Motor. NilaiJawabanSoal/Petunjuk TAKDIR 1 n ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan; nasib; 2 p jika; seandainya -nya terjadi apa-apa dengan diri abang kpd siapa kami akan beruntung; 3 p kalau p... REAKSI ... ditukargantikan biasanya bereaksi dengan pecahan jika ada yang ditinggalkan oleh atom atau radikal yang menukar ganti; ... BERSIN Dapat terjadi jika kita menghirup bubuk merica dengan menggunakan hidung GELAP Suasana yang terjadi jika kita menutup mata TUKANGBELING Jika terjadi perpecahan, siapakah yang paling diuntungkan RMENIR Pecahan beras halus yang terjadi ketika ditumbuk KRAM ... perut biasa terjadi jika setelah makan kita melakukan olahraga seperti lari MACET Yang terjadi jika pertumbuhan kendaraan melebihi pertumbuhan jalan MENIR Pecahan beras halus yang terjadi ketika ditumbuk; melukut PANIK Jangan ... salah satu himbauan jika terjadi bencana alam KORSLETING Yang biasa terjadi jika alat elektronik yang menyala tersiram air SOBEK Yang bisa terjadi pada celana kita jika melakukan gerakan split TENGGELAM Apa yang terjadi jika batu berwarna biru dilempar kedalam kolam LENTISEL Pori-pori yang menonjol, terjadi jika lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus MENGANDAIKAN Memisalkan; mengumpamakan; jika sesuatu peristiwa terjadi ~ dirinya dapat terbang seperti burung; MUTAGENESIS Kim terjadinya mutasi jika terjadi perubahan satu atau lebih nukleotida dalam gen SAMPANG, SENYAMPANG 1 mumpung cak, selagi; 2 jika, kalau, kalau-kalau, seandainya, sekiranya, siapa tahu; 3 mentangmentang KEMUSTAHILAN Sesuatu hal yang mustahil; sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi suatu ~ jika mayat itu hidup kembali ASURANSI Pertanggungan berupa perjanjian dengan cara membayar iuran dan pihak lain memberikan jaminan kepada pembayar iuran jika terjadi sesuatu yang menimpanya MENYIUK Menarik napas karena sakit, berasa pedas, susah, dsb; siapa sakit, siapa ~, pb yang berbuat salah akan merasa jika ada yang menyindir dsb BILANG, BERBILANG 1 beberapa ~ kali; ~ ratusan ribuan; ~ sen rupiah; 2 menghitung; perhitungan ~ untung; ~ dari esa, mengaji dari alif, pb jika mengerjakan sesuatu hendaknya dimulai dari permulaan; TEMPUA Burung manyar, Ploceus philippinus infortunatus; jikalau tidak berada-ada ada berada, ada mengada, masakan - bersarang rendah, pb jika tidak ada s... ASBUT ...ang oksida, dan nitrogen oksida, sangat berbahaya jika dihirup ... IKHTIAR ...njalani untung menyudahi, pb orang harus berusaha jika ingin mencapai suatu maksud, tercapai atau tidaknya nasiblah yang menentukannya; ... RUPANYA 1 rupa; 2 kelihatannya; tampaknya; jika menilik keadaannya bentuknya, kelakuannya, dsb ~ hari akan hujan; 3 agaknya; kiranya; barangkali ~ ia t...
SEBAB-SEBAB PERPECAHANOleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-AqlSeandainya kita berusaha menelusuri sebab-sebab perpecahan sejak awal mula perpecahan itu terjadi sampai pada hari ini niscaya kita dapati banyak sekali faktor-faktor yang memicu terjadinya perpecahan. Bahkan hampir-hampir tidak terhitung banyaknya. Setiap mecuatnya sebuah pemikiran, tradisi dan bid’ah baru, pasti menimbulkan sebuah perpecahan baru pula. Namun dalam hal ini, ada beberapa faktor dominan yang juga merupakan sumber utama penyebab terjadinya perpecahan dari dulu hingga sekarang. Kami akan meringkasnya sebagai PERPECAHAN ADALAH BENTUK PERSELISIHAN YANG LEBIH TAJAM Faktor terpenting yang memicu terjadinya perpecahan dan yang terdahsyat efeknya terhadap umat adalah konspirasi dan makar yang dilancarkan oleh berbagai kaum pemeluk agama, seperti kaum Yahudi, Nashrani, Shabi’un penyembah binatang dan dewa-dewa, Majusi dan Dahriyun atheis. Demikian pula barisan sakit hati yang masih menyimpan dendam terhadap Islam dan kaum muslimin. Karena jihad Islam telah menyudahi kekuasaan mereka dan menghapus kejayaan mereka dari muka bumi. Seperti kerajaan Persia dan Romawi. Di antara mereka masih tersisa segelintir oknum yang bertahan di atas kekafirannya serta masih menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka lebih memilih jalan kemunafikan dan zindiq, yaitu menampakkan ke-Islaman secara lahiriyah saja. Atau lebih memilih tetap memeluk agama mereka yang lama dengan membayar jizyah upeti sebagai jaminan keselamatan dan keamanan supaya dapat hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Merekalah faktor paling dominan yang menciptakan perpecahan dengan menebar tipu daya melalui pemikiran, prinsip-prinsip, bid’ah-bid’ah dan hawa nafsu di tengah-tengah kaum TIDAK SEMUA PERSELISIHAN MERUPAKAN PERPECAHAN Pentolan-pentolan ahli ahwa pengikut hawa nafsu yang berusaha mengeruk keuntungan pribadi atau kelompok di balik awan hitam perpecahan. berikut para pengikutnya yang senantiasa menebar huru hara. Banyak kita dapati di antara pengikut-pengikut golongan sesat yang berusaha meraih keuntungan pribadi dibalik perpecahan tersebut demi memuaskan syahwat dan hawa nafsu atau demi kepentingan golongan, suku, kabilah dan lainnya. Bahkan mereka acap kali berperang demi membela kepentingan hawa nafsu atau karena fanatisme golongan. Merekalah yang berperan sebagai katalisator perpecahan. Dan mereka pula yang memperbanyak jumlah pengikut-pengikut kelompok sesat yang memang punya kepentingan sama, yaitu sama-sama mencari ini akan selalu ada kapan dan di mana saja. Setiap kali muncul pemikiran nyeleneh, bid’ah atau pengikut hawa nafsu, pasti selalu saja ada orang yang mengikutinya, baik dari kalangan pengikut hawa nafsu ataupun orang yang punya kepentinan pribadi. Orang-orang model begini pasti selalu ada di sepanjang zaman, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah PERPECAHAN HANYA TERJADI DALAM MASALAH PRINSIPIL Kebodohan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya perepecahan. Kebodohan merupakan penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan, yang pada waktu bersamaan menciptakan atmosfir-atmosfir perpecahan. Kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam bidang agama, baik kebodohan dalam aspek aqidah maupun aspek syari’at. Jahil terhadap sunnah serta kaidah-kaidah dan metodologinya. Bukan hanya buta tentang beberapa disiplin ilmu saja, sebab seperangkat ilmu yang menjadi pelindung diri dan pedoman operasional agama sudah cukup bagi mereka untuk disebut alim terhadap masalah agama sekalipun tidak menguasai seluruh disiplin ilmu. Akan tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki maklumat yang lumayan banyak, namun jahil tentang kaidah-kaidah dasar agama. Ia tidak mengerti kaidah-kaidah dasar aqidah, etika-etika dalam berbeda pendapat, kaidah-kiadah dalam menghadapi perpecahan dan menyikapinya serta etika-etika mu’amalah dengan orang lain. Ini sungguh musibah yang sangat besar yang sangat banyak menimpa umat manusia sekarang seseorang yang memiliki sejumlah maklumat agama atau seorang yang banyak menimba ilmu dari berbagai sumber, namun ternyata ia jahil tentang masalah aqidah dan fiqih. Tidak mengerti etika bermu’amalah, prosedur memvonis orang lain. Tidak memahami kaidah-kaidah dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga tanpa disadari ia telah berbuat kejahilan merupakan musibah dan penyebab utama terjadinya sebuah perpecahan, orang-orang jahil merupakan aktor utama sekaligus pemicu terjadinya PERSELISIHAN KADANG KALA TIMBUL KARENA PERBEDAAN IJTIHAD TIDAK DEMIKIAN HALNYA PEPERCAHAN Kerancuan dalam metodologi memahami agama. Berapa banyak kita temukan orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan banyak menelaah buku-buku, namun menempuh metodologi memahami agama yang rancu. Sebab memahami agama memiliki metode tersendiri yang sudah diwarisi sejak zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in serta generasi Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari tersebut ialam menuntut ilmu, mengamalkan, ihtida’ mengikuti petunjuk, iqtida’ meneladani kaum salaf, suluk adab dan akhlak dan mu’amalah. Yaitu menguasai kaidah-kaidah dasar syari’at lebih banyak daripada mengenal hukum-hukum furu’ dan sejumlah nash-nash tertentu saja. Dengan begitu kita dapat memahami agama secara sempurna dari para pemimpin teladan, yaitu para imam-imam dan para penuntut ilmu yang terpacaya dan mapan ilmunya. Yaitu menuntut ilmu sesuai dengan tahapan-tahapannya, baik secara kuantitas maupun jenis, sesuai dengan perkembangan dan kesiapan. Ilmu yang menghasilkan pemahaman agama yang baik ialah ilmu syar’i yang ditimba dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar-atsar para imam yang shahih. Buku-buku tsaqafah pengetahuan umum, pemikiran, sastra, sejarah dan sejenisnya tidaklah dapat menghasilkan pemahaman agama. Hanyalah sebagai ilmu sampingan dan alat bantu bagi yang dapat memetik faidah darinya.[Disalin dari kitab Al-Iftiraaq Mafhumuhu asbabuhu subulul wiqayatu minhu, edisi Indonesia Perpecahan Umat ! Etiologi & Solusinya, oleh Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, terbitan Darul Haq, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari] Home /A5. Pentingnya Ukhuwah Islamiyah/Perpecahan Adalah Bentuk Perselisihan...
Perpecahan adalah pertikaian, hancur, gagal. Keadaan atau perihal berpecah - pecah berpecah belah, dan sebagainya Pertanyaan baru di IPS potensi sumber daya hutan tertua di Indonesia adalah... Pernyataan yang tepat dari kurva penawaran tersebut ialah .... a. penjual akan sedikit menawarkan barang bila harga barang naik b. penjual akan banya … k menawarkan barang bila harga barang naik c. pembeli akan sedikit membeli barang bila harga barang turun d. pembeli akan banyak membeli barang bila harga barang naik Tabungan yang paling umum dan banyak dimiliki setiap orang. Seperti yang sudah kita bahas sedikit di atas, bahwa nasabah dari tabungan yang satu ini b … iasanya diberikan fasilitas buku tabungan, kartu debit dan layanan banking baik itu sms banking, mobile banking atau internet banking. Tabungan yang demikian disebut tabungan ... a. Berjangka b. Deposito C. Investasi d. Konvensional 9. Perhatikan data berikut!No. Mata Uang1. Langka2. Dapat diterima umum3. Mudah didapat4. Umumnya berupa logam5. Jumlah sedikit6. Sangat disukaiBerdas … arkan data, syarat suatu barang agar dapat berfungsi sebagai uang ditunjukkan nomor.... a. 1, 3, 4, 6 b. 1, 2, 5, 6 C. 1, 2, 3, 4 d. 1, 3, 4, 5 belanda dikenal dengan politik adu dombanya, bukti adu domba belanda adalah ....
Oleh Yuyun RumiwatiMelihat kondisi umat Islam yang rawan dan mudah diadu domba sangat miris sekali. Bagaimana tidak, yang seharusnya ada ikatan hati, pikiran untuk saling menguatkan menghadapi problem umat yang semakin berkaitan dengan beda pendapat yang bersifat khilafiyah, tentu sebagai muslim seharusnya kita tahan bagaimana cara bijak menghadapi perbedaan tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi seperti apa yang terjadi akhir-akhir ini, sesama mukmin justru kurang mengedepankan tabayun dan yang terjadi justru memperbesar peluang untuk terjadi perpecahan. Itulah yang terlihat atas pertunjukan wayang di pondok pesantren seorang ustdzah kondang di Yogyakarta tanggal 18 Februari sesama muslim sudah saling menghujat, yang rugi siapa? Ummat Islam sendiri. Yang diuntungkan adalah orang-orang munafik yang sengaja ingin melihat perpecahan ummat Islam tidak heran, jika video ustad Khalid yang sebetulnya sudah lama tahun 2019 diugkit-ungkit lagi, bahkan ada yang berinisiatif energi tersebut digunakan untuk bersenergi saling mengisi dalam menemukan solusi negeri ini, tentu indah dan itu untuk menjalin kesatuan hati umat kita harus merenungi firma Allah ﷻ berikut,وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ"dan Yang mempersatukan hati mereka orang-orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana." QS. Al-Anfal 63MasyaAllah, Dialah Allah ﷻ sang pemilik hati. Karena Dia pula yang lebih berhak untuk menentukan menyatukan hati muncul sebuah pertanyaan, jika demikian apa motif di balik mencuatnya isu perbedaan pendapat tentang wayang tersebut. Allahu a' sebagai seorang muslim perlu berhati-hati, agar tidak terjadi saling hujat, karena yang paling diuntungkan adalah orang di luar Islam yang sengaja dan tidak menghendaki persatuan terpenting untuk ummat ini adalah upaya memupuk persatuan dalam menyongsong kesatuan hakiki dalam sebuah ikatan akidah harus dikedepankan. Inilah modal kemenangan Islam. Dan kesatuan hakiki ini akan terwujud ketika umat disatukan oleh sistem Khilafah أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
– Bagi saya, dan mungkin sebagian dari kita, Pilkada DKI Jakarta adalah mimpi buruk yang terus menghantui sampai kini. Bahkan banyak pengamat politik dan demokrasi menobatkan Pilkada Jakarta sebagai pesta demokrasi yang paling sarat praktik politik identitas, baik agama dan identitas secara sederhana bisa dimaknai sebagai strategi politik yang memfokuskan pada pembedaan sebagai kategori utamanya Agnes Heller. Menurutnya politik identitas dapat memunculkan toleransi dan kebebasan, namun di lain pihak,politik identitas juga akan memunculkan pola-pola intoleransi, kekerasan, dan pertentangan intensnya penggunaan narasi kebencian dan eksklusivisme, seperti “kafir”, “Cina”, “hijrah”, “jihad” dan sebagainya, membuat perpecahan di akar rumput, sulit untuk direkonsiliasi, utuh seperti semula. Tampaknya, penggunaan politik identitas dalam Pilpres 2019 disinyalir akan menjadi replika dari Pilkada DKI tampak kedua capres dan pendukungnya mengarahkan dialektika di dunia maya, kepada program-program, malah lebih mempertontonkan “kenyinyiran” yang terus memainkan narasi kebencian satu dengan yang dikhawatirkan kalau semakin mendekati Pilpres 2019, semakin tajam dan intensif kedua kubu menggunakan narasi-narasi yang memperteguh politik identitas. Akankah penggunaan politik identitas segera berakhir dengan munculnya “sindiran” untuk mengadu kedua Capres dengan kemampuan baca Quran atau menjadi imam sholat? Siapa sebenarnya yang diuntungkan dalam penggunaan politik identitas?Diskusi pagi ini, 30 Desember 2018, di Kedai Kendal, Menteng, saya berharap menjadi babak kebangkitan suara-suara masyarakat sipil untuk lebih aktif lagi melakukan kritik dan menawarkan arah politik baru Indonesia, agar kedua kubu yang sedang berkontestasi sesegera mungkin mengakhiri babak “benci membenci” dan memulai sebuah fase baru yang penuh dengan dihadiri oleh empat nara sumber yaitu Dr. Ali Munhanif Dosen UIN Syarifhidayatullah Ciputat, Ruby Kholifah Asian Muslim Action Network/ AMAN, Bonar Tigor Naipospos Setara Institute, dan Arif Susanto Exposit Strategic. Diskusi ini diselenggarakan oleh Lingkar Madani Indonesia, dibawah komando Ray identitas; menguat atau memudar?Melihat dari jejak-jejak politik identitas di Indonesia, dan perkembangan perolehan suara kedua pasangan Capres-Cawapres yang cenderung stagnan, dimana Jokowi-Makruf konsisten di angka 53-58%, dan Prabowo-Sandi juga tetap di angka 42-46%, maka bisa dipastikan penggunaan politik identitas akan semakin menguat menjelang 17 April 2019. Ke-empat nara sumber secara tidak langsung menunjukkan persetujuan tentang eskalasi politik identitas ini. Berikut beberapa alasan yang diringkas dari diskusi 2 Politik Identitas adalah cara yang paling murah dan mudah untuk melakukan mobilisasi memenangkan pertarungan politik di Pilpres 2019 nanti. Dr. Ali Munhanif dari UIN Syarifhidayatullah menegaskan bahwa strategi politisasi agama dan ethnik telah sukses mengkriminalisasi Ahok dan sekaligus memobilisasi suara basis yang ketakutan karena ancanam “neraka” atau “tidak disholatkan”. Meski murah ongkos politiknya, tapi mahal dalam pemulihannya, yang kemungkinan sampai sekarang “luka” akibat Pilkada Jakarta 2017, belum sembuh apalagi Politik Identitas bisa saja tidak terlalu berefek pada suara, meski akan tetap dipakai karena ingin membuat replika sukses setelah Jakarta Ari Susanto. Stagnansi angka perolehan suara melalui media survey, menunjukkan militansi pemilih kedua pasangan, dan kemungkinan tidak begitu mudah digoyahkan. Tapi tampaknya jurus ofenisf tim Jokowi kepada lawan-lawannya membuat permainan politik identitas berlanjut dengan menggeser locus pertarungan saja. Jika dulu kita bermain pada locus “lebih islam mana Prabowo dan Jokowi’?. Kini locusnya bergeser ke “siapa dari keduanya yang lebih bagus baca Quran dan mengimami sholat?”.Ketiga, Politik Identitas dengan berbagai dinamikanya telah menciptakan momentum kebangkitan bagi Islam formalis maupun Islam tradisional Bonar Tigor. Kita semua tahu pada tahun 2012, FPI sudah mulai meredup dan limbung, tetapi momen Pilkada DKI Jakarta, membuatnya bangkit kembali setelah angin segar dihembuskan oleh Gerindra. Bahkan FPI mulai menyusupkan kepentingan untuk mendaulat Habib Rizieq menjadi imam besar. “Imam Besar”? Bagi kelompok Islam tradisional seperti NU, tentu isu ini membangkitkan identitas mereka sebagai ormas bagian dari pendiri bangsa Politik Identitas masih terus terpakai selama daya kritis masyarakat rendah dan semburan kebohongan berhasil menciptakan keraguan Ruby Kholifah. Menurut the World’s Most Literate Nations WMLN, lembaga yang merilis daftar panjang negara-negara dengan peringkat literasi di dunia, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dari bawah. Penelitian yang dilakukan ole Jhon W. Miller, Presiden Central Connecticut State University, New Britain di 61 negara, menempatkan Finlandia sebagai negara paling literat. Indikasi rendahnya tingkat literasi kita tampaknya ada hubungannya dengan suburnya informasi-informasi dan berita-berita fitnah atau hoax, yang terus disyiarkan oleh berbagai media, sehingga membuat keraguan pada banyak orang. Ini memang tujuan dari Firehose of Falsehood FOF, adalah menciptakan keraguan. Keraguan akan memperbesar konteks politik identitas, Ruby juga menyinggung narasi gender yang dijadikan komoditas kelompok-kelompok islam radikal, kuat dipakai untuk mengukuhkan identitas keislaman. Narasi-narasi gender seperti “istri sholeha”, “wanita sholeha”, “hijrah”, “cadar” , “poligami” juga secara genjar dilancarkan oleh kelompok-kelompok Islam formalis, yang menemukan afiliasi politiknya dengan salah satu pasangan. Narasi-narasi gender tersebut juga ikut mengukuhkan discourse rebutan “islami” yang sejak masuk fase kampanye sudah dihembuskan oleh paslon untung, siapa buntung?Sejatinya, keuntungan “kecil” permainan politik identitas ini ada pada segelintir orang yang menikmati kekuasaan. Tapi, secara jangka panjang semua pihak akan mendapatkan kerugian yang sangat besar. Baik pihak yang menang maupun pihak yang kalah dalam yang menang mungkin akan menikmati kekuasaan dan bagi-bagi kursi. Pihak yang kalah sudah pasti akan terpinggir. Tapi sebenarnya kerugian besar mengancam masyarakat dan bangsa, diantaranya adalahPertama, pragmatisme politik akan semakin mengaburkan posisi agama dan negara dalam konteks demokrasi di Indonesia. Mungkin baik dari pihak Prabowo-Sandi atau Jokowi-Makruf tidak akan menerima proposal “mengganti negara Pancasila”. Ray Rangkuti sangat yakin meskipun kini kelompok-kelompok seperti FPI, HTI dan kelompok islam garis keras lain yang berasosiasi pada kubu Prabowo, seolah optimis dengan pengukuhan negara Islam, tapi sulit bagi mereka melawan arus deras yang tetap menghendaki Indonesia tetap menjadi negara Pancasila. Terbukti saat ini, negosiasi politik untuk “pemutihan Habib Riziq dan Adopsi Syariah Islam” tidak dikabulkan oleh kubu Prabowo maupun, apalagi kubu pemimpin negeri ini dalam bersikap tegas pemisahan negara dan agama, dikhawatirkan akan melanggenggkan posisi “kabur” hubungan negara dan agama. Agama akan dilibatkan dipakai untuk kepentingan politik jika dimungkinkan. Begitu pula negara akan dipakai untuk misi agama jika mendapatkan mengamini politik identitas memberikan ruang pada gerakan islam tekstual, dimana tradisi tafsir terbuka menjadi tidak populer. Sebaliknya tafsir tektual dianggap lebih instan bisa memperkuat identitas kelompok. Khususnya bagi para “pencari Tuhan” yang ingin secara instan belajar Islam tapi tidak mau melalui guru yang benar. Jika berlangsung, maka saya khawatir tafsir terbuka akan tenggelam. Dampaknya bagi perempuan khususnya akan sangat terasa dalam hal pengukuhan budaya tindakan-tindakan intoleransi akan semakin mengeras dan persekusi di wilayah publik akan semakin luas. Ditunjang dengan budaya kritis yang rendah, dan penegakan hukum yang lebih, bisa dibayangkan kasus-kasus intoleransi akan semakin perpecahan di masyarakat yang tidak pernah disiapkan solusinya pasca Pilpres akan menjadi residu yang tidak pernah terurai. Masyarakat akan tetap memiliki memory terhadap kekerasan yang dipicu oleh pengerasan politik identitas. Ruang publik yang sehat dan bebas semakin kecil karena ketakutan menyebar akut di jika terjadi deadlock politik karena margin yang kecil, maka kemungkinan menyulut pada konflik sosial akan lebih besar. Keputusan apapun yang dianggap fair selalu akan memungkinkan untuk salah satu kubu berbuat diluar konstitusi. Semoga ini tidak politik kebencian ke politik harapanMungkinkah usulan dari Aceh untuk tes baca Al-Quran dan adu kelihaian menjadi Imam Sholat, sebenarnya puncak berakhirnya politik identitas? Semua nara sumber bersepakat untuk menghentikan poltik identitas dengan tidak membalasnya dengan hal yang dari politik kebencian menjadi politik harapan. Ini yang diyakini oleh Arief Susanto akan secara dramatis menghentikan berbagai macam bentuk politik identitas. Politik harapan yang dimaksud adalah mulai mengarahkan pada adu gagasan untuk kemajuan Indonesia. Dr. Ali Munhanif menyarankan bagi Petahana untuk bisa mempromosikan lebih banyak lagi keberhasilan-keberhasilan kerja selama 4 tahun terakhir, dan membanjiri berita media dengan ruang publik yang sehat baik online maupun offline, dirasa oleh Ruby Kholifah sebagai jalan keluar untuk menghentikan politik identitas. Ini adalah mulai menanamkan critical thinking, dan menyadari kemampuan cara bekerja ketiga bagian otak kita otak primitif, otak emosional dan otak human, agar bekerja cepat untuk hal-hal yang sifatnya membangun optimisme dan besar lagi, kepentingan sebagai bangsa yang beradap adalah mulai mencari moment of truth di mana perjalanan Indonesia setelah reformasi 1998, yang hampir mengalami Pemilu yang kelima, Arief mengingatkan bahwa inilah momentum untuk menemukan arah demokrasi kita yang lebih mantap dan dewasa. Apalagi menjelang 2024 nanti, dimana banyak aktor elit politik sudah mundur dari perpolitikan dan digantikan oleh aktor-aktor baru, maka perlu sebuah arahakan yang jelas bagaiaman mempersiapkan budaya politik baru yang lebih modern dan beradap.[]
jika terjadi perpecahan siapakah yang paling diuntungkan